Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2016

49 dalam KMNU-day

Kebersamaan dalam setiap langkah akan membawa kebahagian. inilah kami, KMNU 49. berbeda rupa, berbeda asal, berbeda departemen, berbeda karakter tapi disatukan dalam suasana kekeluargaan KMNU IPB.

Meski tidak lengkap, setidaknya sudah mewakili semuanya :
Hamdan : berkarakter terbuka, gak mau basa basi, mengikuti hukum Newton III (Aksi Reaksi), Care dengan temennya. Lumayan perhitungan. haha
Syarif : agak kaku, care dengan temen, kalo sudah fokus kayak ada di planet sendirian, gak punya kerjaaan lain selain ngurusi kode-kodean di laptop. salah masuk kampus, karena harusnya bukan di IPB, Karna kuliyah di IPB tapi gak ada sangkut pautnya dengan pertanian, wkwkwk
Jayat : sangat care dengan teman, bento, semrawut, spiritualis, pengingat, patut di contoh, sederhana, tidak neko-neko, kebalikan hamdan, anti mainstream. selalu ada misi khusus dibaliik semua kegiatannya.
Yasin : ruwet, banyak ide brilian tapi dia susah menjelaskan ke kita, samapai-sampai kita bingung apa yang dijelaskannya, biasanya pakai kata-kata "gini, gini, gini, jangan gini, gini", orangnya santai
Irfan : gak neko-neko, sederhana, jarang protes, pengamat, selalu membantu, berbicara jika diperlukan, tenang.
Aris : Care sama temen, kadang ilang, kadang balik hahaha, baik, unik
Alsa : sederhana, kalau memakai pakaian pasti modot molor wkwkwk, makin gemuk, care dengan temen, murah senyum dan murah hati dengan siapapun, sama kayak jayat : bento
Afifah : alay, ramai, sensitif, ceria, kadang terkungkung dengan stigma, semangat untuk maju, semangat
Rofi : sederhana, Njiwitan loro tenan, baik hati, pecingklaan ahahaha,
Arifah : Sederhana, terbuka, care dengan teman, seneng bicara
Vita : menyederhana, tak terduga, care dengan temen, lumayan strong, baik hati
Ayu : kayaknya suka selfy, baik
Lukman : gak fokus, gak tenanan dengan tugasnya, baik, tambah lemu.
Welly : baik, strong, konco futsal biasane
Adiit : pinter, organisatoris,
Afif : tawadu'e lo.. pinter, sederhana, kayake lebih suka bisnis
Benny : Pinter, tapi sungkanan kalo diajak kumpul
selamat kepada kalian, semoga kita bersama segera lulus dan sukses. amin


Rabu, 30 Desember 2015

Pengelolaan Energi Harus Bijaksana



Oleh : Hasan Bisri, Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor
            Tidak lama menghilang kegaduhan kasus “papa minta saham”, Indonesia kembali di digegerkan dengan kontrofeversi rancangan pemberlakuan pungutan dana ketahanan energi pada penghujung akhir tahun ini. Rancangan ini telah ditetapkan menteri ESDM, Sudirman Said untuk diberlakukan bersamaan dengan penurunan harga BBM pada 5 Januari nanti.

Berbagai kalangan setuju dengan keputusan tersebut, namun tidak sedikit pula yang mengecamnya. Beberapa pihak mengatakan bahwa kebijakan pungutan dana tersebut tidak didasari payung hukum yang jelas dan cenderung melanggar undang-undang. Namun Sudirman Said beranggapan bahwasannya keputusan ini sudah searah dengan Undang-undang (UU) Nomor 30 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 Tahun 2014, meskipun pada akhirnya dia sendiri jujur perlunya penguatan hukum dalam implementasiannya nanti.
Turunnya harga minyak dunia mendasari pemerintah untuk menurunkan harga BBM tahun depan nanti. BBM jenis premium dan solar merupakan tipe yang akan dikenakan tambahan biaya pungutan dana ketahanan energi sebesar Rp.200 dan Rp.300 perliternya. Tentunya hal ini tidak membuat seluruh masyarakat pengguna BBM tersenyum lebar akibat tidak signifikannya penurunan harga dua jenis bahan bakar terpopuler ini.
Pemerintah mengungkapkan tujuan dipungutnya dana ini adalah untuk menekan ketidak stabilan harga BBM. Secara hitung-hitungan, Sudirman Said mengatakan bahwa potensi pungutan dana tersebut bisa mencapai 15 triliun hingga 16 triliun.  Kita tahu bahwa kucuran dana subsidi BBM sudah sangat rendah dibandingkan dengan tahun sebelum-sebelumnya. Ini artinya harga BBM domestik akan cenderung mengikuti harga minyak dunia yang sangat fluktuatif. Padahal realita yang terjadi, masyarakat kurang siap dengan mekanisme pasar dunia dengan bukti kemudahan penurunkan harga BBM domestik namun sebaliknya dengan keputusan kenaikan BBM. Dengan begitu, dana yang terkumpul dari pungutan dana ketahan energi dapat dipakai untuk menjaga kestabilan harga BBM domestik serta untuk keperluan lain demi pengusahaan pengolaan energi terbarukan.
Niat pemerintah ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Masyarakat yang mulai cerdas dan kritis berusaha mempertanyakan kebijakan ini. Kondisi ini bukannya tanpa alasan, mengingat penurunan dana kucuran subsidi BBM sebelumnya tidak diketahui dialihkan sektor mana.
Terlepas dari kontoversi apapun yang terjadi, Indonesia perlu lebih bijaksana dalam mengelola energi. Tidak bisa dipungkiri, sumberdaya energi khususnya BBM seakan telah menjadi makanan pokok bagi bangsa kita. Padahal kita tahu sumber bahan bakar hampir semuanya didatangkan dari negara lain. Fakta dilapangan bisa kita lihat bahwa harga BBM sangat memengaruhi kestabilan harga-harga lainnya yang sangat mengganggu kestabilan politik negara.
Upaya pemerintah untuk menggalakkan potensi sumber daya energi terbarukan sebenarnya bukanlah hanya sekedar mimpi. Jika kita bersedia sedikit menilik potensi sumber daya alam Indonesia, tentunya tidak ada alasan Indonesia harus terombang ambing dengan fluktuasi kekuatan global, termasuk terhadap harga minyak dunia yang diluar kendali kita.
Potensi produksi sumber daya energi terbarukan seperti biofuel sebenarnya sangat mungkin kita lakukan. kita memiliki berbagai produk pertanian yang sangat mungkin digunakan memproduksi energi terbarukan. Sektor perkebunan penghasil input bioenergi seperti minyak sawit, minyak kelapa, serta puluhan tanaman lainnya yang bisa digunakan untuk pembuatan biofuel.
Perkebunan kelapa sawit misalnya, kita merupakan penghasil produksi minyak sawit terbesar di dunia. Jumlah luas lahan kelapa sawit Indonesia mencapai 10,5 Juta hektar dengan hasil produksi sebesar 29,3 juta ton. Indonesia bersama dengan Malaysia merupakan penghasil 85 persen minyak sawit dunia.  Itu artinya, kita berpotensi mampu memproduksi kurang lebih sebanyak 25 juta kiloliter biofuel dengan asumsi semua produksi minyak sawit untuk keperluan energi bahan bakar. Jumlah ini merupakan angka yang sangat besar. Belum lagi sumber daya alam lainnya seperti minyak kelapa dan tebu yang memiliki daya dukung tinggi terhadap memungkinkannya pada pembuatan energi terbarukan.
Rasanya, momen pergantian tahun ini kita harus berintropeksi bersama. Kondisi krisis dunia yang disertai pemanasan global dan keadaan politik yang tidak menentu seharusnya membuat kita merenung untuk lebih berlaku bijaksana terhadap penggunaan energi. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk lebih bijaksana adalah dengan usaha berhemat energi dan terus mengupayakan keberhasilan produksi energi terbarukan dengan mengoptimalkan sumberdaya alam kita untuk kemakmuran rakyat sebesar-besarnya.

Jumat, 04 Desember 2015

Penyelenggaraan Acara di Desa dan Kota

Penyelenggaraan Acara di Desa dan Kota



Suasana pedesaan sangat terasa. Orang-orang bercampur bergurau bersama dalam asatu rumah. bagai saudara yang begitu dekat. Tetangga-tetangga datang tanpa diundang oleh keluarga penyelenggara. Mereka tergerak membantu tanpa ada yang terbesit untuk di bayar. Semua atas dasar kekeluargaan, kerelaan, kebersamaan dalam satu tetangga, dan satu saudara.

Suasana ngerumpi terjadi dimana-mana. Orang-orang yang didominasi oleh ibu-ibu itu bekerja tanpa bayaran. Mereka hanya difasilitasi oleh waktu untuk sekedar bersama berbincang-bincang ditengah-tengah pekerjaan. Apapun mereka perbincangkan, dari mulai yang baik sampai yang buruk. Puluhan orang mungkin habis mereka obrolkan, namun tak sedikit pula yang baik.

Aku melihat suatu hal yang berbeda dari cara orang-orang desa dan orang-orang kota yang lebih terdidik dan akademisi dalam menyelenggarakan sebuah acara. Dalam penyelenggaraan yang dilakukan oleh orang-orang desa, semuanya serba sporadis, perencanaan jangka pendek, kurang matang, mengira-ngira, kadang kurang tepat sasaran, didominasi oleh hanya beberapa orang saja yang di percaya, tidak ada budgeting dana yang jelas, tidak ada laporan tertulis, merekrut team dari tetangga atau saudara, semua dikerjakan atas dasar keluarga, ramah, alakadarnya.

Ini sangat berbeda dengan EO yang ada di kalangan orang kota atau di kalangan akademisi yang lebih profesional dan terencana. Meski begitu, semuanya tetap berjalan lancar dan acara selesai dengan menggembirakan.

Tak bisa di samakan memang, dan tak bisa di paksakan. Apa yang terjadi di desa hanya untuk orang desa dengan kearifan nya sendiri sebagai pendekatannya. Dan apa yang terjadi dikota memang apa yang dikehendaki oleh orang-orang kota yang cenderung memiliki gengsi tinggi. Namun pastinya, perkembangan zaman akan membawa kearah perbaikan. Orang-orang desa yang telah terdidik akan mulai berfikir memperbaiki apa yang bisa di lakukan, tanpa meninggalkan esensi-esensi ke-pedesaan yang begitu menggembirakan dengan suasana kekeluargaannya.

Yang penting semuanya tetaplah harmoni. Tujuannya adalah keberkahan, yakni akan membawa kebaikan setelah terlaksananya acara.

Catatan brissy,
Jepara, 13 November 2015