Senin, 18 April 2016

"Syahadat Cinta", Tasawwuf Sayyidati Robi'ah Al Adawiyah

Buku berjudul "Syahadat Cinta RABI"AH AL-ADAWIYAH", karya Mohammad Guntur Romli cukup menarik bagi saya. didalamnya terdapat konsep pengubahan relasi antara hamba (abdun) dengan Tuhannya, sangat berbeda dengan para umat muslim pada umumnya (muslim belum pada maqom sufi)

sosok Rabi'ah Al Adawiyyah, seorang yang digambarkan kontroversi, kisah pertama, setelah merdeka dari budak, Rabi'ah menjadi wanita penghibur, Rabi'ah digambarkan memiliki paras yang cantik dan pandai memainkan seruling. setelah merasa jenuh dengan kehidupan itu, Rabi'ah kembali menuju jalan tuhannya. Cerita kedua, Rabi'ah tidak menjadi wanita penghibur, namun langsung kembali menuju jalanNya.

Sebagai wanita dengan figur terbesar sufi wanita sepanjang sejarah (meskipun sebenarnya tidak hanya Rabi'ah), Rabi'ah menempati jajaran tokoh sufi terbesar dibandingkan para sufi yang kebanyakan adalah laki-laki. ini merupakan situasi yang fenomenal mengingat kebudayaan timur tengah yang kala itu lebih ke maskulinitas.

namun Al-Athar, mampu memunculkan kembali sosok Rabi'ah dengan karakter khusus nan unik dengan Tasawwuf Romantiknya. semua berawal dari konflik, pertumpahan darah, kegeraman terhadap situasi kemanusiaan yang ada dalam masyarakat Bashrah waktu itu. bersama Syekh Hasan Bashry, beliau mengambil jalan untuk menarik diri dari kemelut kompleksitas permasalahan umat, yang kebanyakan menggunakan dalih agama untuk menghakimi siapapun yang tidak sepaham, dan siapapun yang diseberang kepentingan (kekuasaan).

konsep tasawwuf, yang terkenal dengan madzhab cinta. beliau menghilangkan imajinasi surga dan neraka sebagai upaya untuk menghilangkan cara beragama dengan pamrih. dalam arti, menyembah/taat karena ingin surga dan patuh karna takut siksa neraka. beliau memberi pertanyaan besar "apakah kita masih akan menyembah Allah, jika surga dan neraka tidak ada?". inilah agama tanpa pamrih. Rabi'ah menganalogikan orang-orang yang patuh dan taat karena pamrih surga dan neraka itu bagaikan seorang budak yang buruk, yang bekerja karena iming-iming tuannya, dan takut karena ancaman tuannya.

pengubahan syahadat penghambaan (ubudiyyah) mejadi syahadat cinta, yang awalnya aku bersaksi tiada tuhan selain Allah menjadi "aku mencintaimu ya Allah". dari sinilah, Rabi'ah mengedepankan "kecintaan" dalam rangka meraih RidhaNya. mendekatkan hamba dengan sang Kholik dengan relasi yang sangat intim, yakni sebagai kekasih. dengan begitu, tidak ada yang lebih di cintai selain Allah.

bahkan, singkat sebuah cerita, ketika Rabi'ah dirundung duka karna sakit, beliau mengatakan : "sakitku ini adalah teguran dari Allah karena aku sempat tertarik terhadap tawaran surga, sehingga Allah menginginkanku untuk tidak mencintai selainNya.

Sayyidatinya Rabi'ah juga menghasilkan puisi-puisi puitis bukti kecintaannya kepada Tuhannya.

ini mengingatkan kita pada esensi keislaman, bahwa sejatinya kita itu hanya menginginkan ridhaNya, bukan surga dan menghindari neraka. urusan itu semuanya adalah terserah Allah.


Related Posts

"Syahadat Cinta", Tasawwuf Sayyidati Robi'ah Al Adawiyah
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.